Kota Kelahiran Lumajang

KOTA LUMAJANG
Sejarah pemerintahan
Sisa-sisa Candi Kunir, ditemukan tahun 2013
Nama Lumajang berasal dari nama tempat "Lamajang" yang diketahui dari penelusuran sejarah, data prasasti, naskah-naskah kuno, bukti-bukti petilasan dan hasil kajian pada beberapa seminar dalam rangka menetapkan hari jadinya. Beberapa sumber itu antara lain:
  1. Prasasti Mula Malurung
  2. Naskah Negarakertagama
  3. Kitab Pararaton
  4. Kidung Harsawijaya
  5. Kitab Bujangga Manik
  6. Serat Babad Tanah Jawi
  7. Serat Kandha


Prasasti Mula Malurung adalah prasasti tertua yang menyebut keberadaan "Nagara Lamajang", karenanya dianggap sebagai titik tolak hari jadi Lumajang. Prasasti yang ditemukan pada tahun 1975 di Kediri dan berangka 1177 tahun Saka ini diterbitkan oleh Raja Kertanegara dari Singasari untuk memperingati anugerah Raja Seminingrat kepada Pranaraja berupa dua desa perdikan, Mula dan Malurung. Prasasti ini terdiri dari 12 lempengan tembaga, dan lempengan VII halaman A memuat nama-nama putera-puteri dan kerabat Raja Seminingrat yang diangkat menjadi raja-raja bawahan. Salah satunya, disebutkan bahwa Nararya Kirana yang telah dianggap seolah-olah putera sang Prabu, dijadikan raja di Lumajang.Menurut prasasti tersebut penetapan itu terjadi pada tahun 1177 Saka, yang sesuai dengan tanggal 14 Dulkaidah 1165 tahun Jawa atau tanggal 15 Desember 1255 Masehi.
Mengingat cukup meyakinkan bahwa pada 1255 M itu "Negara Lamajang" sudah merupakan sebuah negara yang berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255 M sebagai hari jadi Lumajang yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990.
Dalam sejarahnya, wilayah ini sangat berhubungan dengan tokoh sejarah bernama Aria Wiraraja. Kitab Pararaton dan Harsawijaya mengisahkan bahwa tokoh yang ketika muda bernama Banyak Wide ini pada mulanya mengabdi di Singasari, namun oleh RajaKertanegara kemudian dibuang secara halus dari ibukota Singasari dan dijadikan bupati di SumenepMadura timur. Aria Wiraraja kemudian berkesempatan memberikan bantuan dan perlindungan kepada Raden Wijaya ketika ia dan rombongannya melarikan diri ke Sumenep akibat kalah perang dengan Jayakatwang. Selanjutnya Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan bahwa Wiraraja diberi hadiah wilayah bagian timur Jawa Timur yang diberi nama "Lamajang Tigang Juru", ketika Raden Wijaya berhasil memenangkan perang dan menjadi raja pertama di kerajaan Majapahit. Akan tetapi wilayah itu baru dikuasai dan diperintahnya setelah kematian puteranya,Ranggalawe, yang memberontak kepada Majapahit (1295).[4]
Wilayah Lumajang kembali disebut-sebut dalam Kitab Negarakertagama ketika Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling wilayah timur Majapahit pada tahun 1359 M; kala itu wilayah ini sudah dikuasai kembali oleh Majapahit.Nama Lumajang (atau, dalam versi aslinya: Lamajang) ini mengacu pada satu wilayah yang luas di pojok timur (Bld.Oosthoek) Jawa Timur, di mana termasuk pula di dalamnya wilayah kuna Pajarakan di sekitar Kraksaan, Probolinggo sekarang.
Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1882 wilayah Lumajang berstatus Distrik (setingkat kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Wedana. Kemudian pada tahun 1886 statusnya dinaikkan menjadi Afdeeling (setingkat kabupaten), kepala pemerintahannya adalah seorang Patih Afdeeling. Tahun 1929 sistem pemerintahan di Lumajang dinaikkan lagi statusnya menjadi Kabupaten, dengan kepala pemerintahannya seorang Bupati. Kepala-kepala wilayah yang pernah dan sedang memimpin Lumajang antara lain:
I. Zaman pemerintahan Wedana
  1. Raden Mas Singowigoeno, Wedana Distrik Loemadjang (1882 - 1886)
II. Zaman pemerintahan patih afdeeling
  1. Raden Panji Atmo Kusumo, Patih Afdeeling Loemadjang (1886 - 1890)
  2. Raden Mas Singowigoeno, Patih Zelfstandig Afdeeling Loemadjang (1890 -1920)
  3. R.T. Kertodirejo, Patih Afdeeling Loemadjang (1921- 1928)
III. Zaman pemerintahan bupati
  1. R.T. Kertodirejo (1928- 1941)
  2. R. Abu Bakar (1941 - 1948)
  3. R. Sastrodikoro (1948 - 1959)
  4. R. Sukardjono (1959 - 1966)
  5. R.Ng. Subowo (1966 - 1973)
  6. Suwandi (1973 - 1983)
  7. Karsid (1983 - 1988)
  8. H.M. Samsi Ridwan (1988 - 1993)
  9. Tarmin Hariadi (1993 - 1998)
  10. Drs. Achmad Fauzi (1998 - 2008)
  11. Drs. H. Sjahrazad Masdar (2008-2015) (meninggal dunia dalam jabatannya)
  12. Drs. H. As'at Malik M.Ag (2015-sekarang)

Kesenian budaya Lumajang (Jaran Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang)

      Lumajang sebagai daerah yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah dari Kerajaan Lamajang tentunya menyimpan sebuah kesenian yang menjadi khas dari Lumajang. Ada beberapa kesenian yang dimiliki oleh Lumajang. Kesenian ini pula yang menemani peristiwa dan cerita sejarah di Lumajang. Pada postingan kali ini saya akan menampilkan 3 kesenian yang dimiliki oleh Lumajang, yaitu ada Jaran Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang.

           


·         JARAN KENCAK
Jaran Kencak adalah kesenian tradisional khas Lumajang. Konon kesenian ini lahir pada masa Arya Wiraraja yang memerintah Kerajaan Lamajang (sekarang berada di Desa Biting, Sukodono, Lumajang) yang wilayahnya meliputi Tapal Kuda dan Madura.

Diyakini, orang yang pertama kali menciptakan kesenian ini bernama Klabisajeh, seorang pertapa suci yang tinggal di lereng Gunung Lemongan. Berkat kesaktiannya Klabisajeh bisa membuat kuda liar tunduk dan pandai menari sehingga jadilah Jaran Kencak; Jaran artinya Kuda, Kencak artinya Menari. "Jadi Jaran kencak pantas sebagai kesenian khas Lumajang," ujar A'ak Abdullah Al Kudus.
Pada jamannya, kesenian ini adalah bentuk-bentuk ekspresi suka cita masyarakat dari sebuah wilayah yang makmur sejahtera; gemah ripah loh jinawi. Ada juga yang menyebutkan bahwa kesenian ini sebagai bentuk penghormatan kepada kuda kesayangan Ranggalawe putra dari Arya Wiraraja yang bernama Nila Ambhara yang terkenal sebagai kuda paling tangguh dan pintar pada jaman itu.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa baik Arya Wiraraja maupun Ranggalawe merupakan raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Akhirnya saat Lamajang diserah musuh, kerajaan di Bima mengirimkan bantuan balatentaranya pasukan berkuda yang dijelaskan dalam kronik cina. "Dalam catatan cina, Lamajang Wirabhumi adalah yang makmur dan sejahtera, maju dalam bisang sosial, ekonomi dan pembangunan," ujar Rida Fitrai, novelis Sejarah Lumajang.









·         TARI TOPENG KALIWUNGU
                   
Tari Topeng Khas Kaliwungu, masih lestari sampai sekarang, orang yang berpengaruh terhadap lahirnya tari Topeng di Kaliwungi adalah Alm. Senemo, Seorang seniman asal kaliwungu yang hingga akhir khayatnya yang selalu berkomitmen mengembangkan dan melestraikan tradisi seni budaya asli Lumajang. beliau juga pernah mendapatkan penghargaan dari Gubenrnur Jawa Timur sebagai seniman Jawa Timur.
Tari topeng Kaliwungu ini berangkat dari pertunjukan wayang topeng yang ada di desa Kaliwungu Kabupaten Lumajang. Tarian topeng ini pada mulanya sebagai bagian dari pertunjukan sandur di Lumajang.
Gerakan Tarian ini menggambaran perpindahan Arya Wiraraja raja Kerajaan Lamajang dari Sumenep ke Lamajang, gerakan yang tegas khas madura kemudian juga ada gerakan-gerakan yang lembut khas jawa. Memang tidak mudah karena tari topeng berkultur Madura yang diiringi dengan alat musik, kenong telok ini untuk bisa bertahan lama. Selain sulitnya masyarakat Madura meninggalkan tradisi ini tetapi di desa Kaliwungu Kecamatan Tempeh yang nota bene sebagian besar tinggal suku Madura.









·         TARI GLIPANG LUMAJANG
Ketipung Lanang, Ketipung Wedok, Iringi Tari Glipang Kesenian Glipang menjadi tradisi turun temurun. Konon, tarian ada sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Meskipun dibawah tekanan dan penjajahan, masyarakat masih bisa menghibur diri dengan permainan alat musik sederhana untuk mengiringi gerak gertk penarinya. Biasanya, tarian Glipang yang diyakini berasal dari Lumajang ini, biasanya dimainkan 5 penari laki laki. Mereka melakukan gerakan perpaduan pencak silat dan gerak sholawat yang biasanya diiringi dengan Jidor (alat musik yang digunakan di mushola).
Dengan perpaduan alat musik lainnya, seperti terbangan, ketipung lanang, ketipung wedok, para penari tampil enerjik menyesuaikan dengan iringan musiknya. Sedangkan Syair lagunya di ambil dari surat berjanjen dan selain untuk hiburan, tarian Glipang digunakan untuk sarana penyebaran agama Islam.



Ciri khas dan pariwisata kota Lumajang

Ciri khas yang dimiliki oleh Lumajang selain gunung Semeru adalah Pisang Agung yang sangat besar. Pisang ini tersebar luas di daerah Senduro, Ranuyoso dan Klakah. Ciri khas lain adalah Pura Mandaragiri Semeru Agung yang banyak orang menyebutnya “Naik Hajinya Orang Hindu se-Indonesia”. Pura yang mempunyai sebutan lain Pura Kahyangan Jagat (tempat memuja Hyang Widhi Wasa), selalu ramai setiap harinya, apalagi ketika ada kegiatan atau upacara keagamaan umat Hindu.Lumajang yang dikenal dengan kota kecil ini mulai berbenah dari tahun ke tahun. Prestasi demi prestasi pun diperoleh, salah satunya adalah Adipura, yakni penghargaan terhadap pengelolaan dan kebersihan lingkungan. Maka tak heran jika sampai saat ini Lumajang kerap sekali mendapatkan adipura dari tahun ke tahun, serta penghargaan Adiwiyata yang diperoleh oleh sekolah-sekolah di Lumajang. Maka slogan Atib Berseri (Aman, Tertib, Bersih, Sehat Indah dan Asri) pun selalu bergaung di Lumajang.

Selokambang

Lokasi :  Desa Purwosono Kecamatan Sumbersuko


Pemandian Alam Selokambang ( sumber air bukan PDAM) terletak di Desa Purwosono Kecamatan Sumbersoko, jarak tempuh dari kota Lumajang  7 Km kearah Barat  15 menit perjalanan dapat ditempuh segala macam kendaraan. Merupakan obyek wisata andalan yang dipercaya masyarakat, bahwa mandi di pemandian tersebut dapat menyembuhkan penyakit reumatik.


Aktivitas yang dapat dilakukan selain olah raga renang, juga dapat menikmati sarana permainan anak, berperahu, sepeda air, olah raga tennis.


Berbagai macam kedai yang menjanjikan makanan tradisional siap untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga disamping itu ditunjang areal parkir yang cukup luas dan representatif

Ranu Kumbolo

Lokasi :  Desa Ranu Pane

3 (tiga) Ranu/danau ini terletak di lereng G. Semeru. Para pendaki yang akan ke puncak Semeru pasti melewati 3 danau ini. 2 Danau yaitu Ranu Pane dan Ranu Regulo terletak di desa Ranu Pane lereng bawah dan merupakan awal pendakian, sedang Ranu Gumbolo terletak di lereng atas setelah perjalanan 5 jam dari Ranu pane.






Gunung Semeru

Lokasi :  Senduro

Puncak Mahameru mempunyai ketinggian  3.676 m diatas permukaan laut dengan kawah Jonggring Saloko dipuncaknya, adalah obyek wisata bagi penghobi pendaki dengan kondisi alam yang menantang. Di Puncak Mahameru pada hari besar nasional atau setiap tanggal 17 Agustus dan 10 November dijadikan tempet upacara oleh para pendaki dari berbagai penjuru nusantara didunia sambil menikmati panorama matahari terbit dan panorama matahari tenggelam dari puncak gunung tertinggi di pulau Jawa ini, sebelum mencapai puncak Semeru / Mahameru terdapat hamparan rumput atau safana yang luas dengan kabut tebalnya yang sangat indah

Hutan Bambu


Lokasi :  Desa Sumber Mujur Kec. Candipuro
Wisata hutan bambu memiliki area sekitar 14 Ha. Obyek wisata ini sangat cocok untuk wisata keluarga dan pecinta lingkungan. Disamping itu dapat juga dijadikan untuk wisata pendidikan, karena disamping hamparan pohon bambu yang luas dapat juga ditemukan banyak sekali kera dan kalong (Pteropus vampirus) yang berada disini.Obyek ini terletak di desa Sumber Mujur Kec. Candipuro, sekitar 30 Km dari Kota Lumajang.


Sisi lain daya tarik dari paket ini adalah masyarakat Ranupani yang khas, baik ditinjau dari sudut sosial budaya, Agama,kehidupan sehari - hari, sehingga tejaga keasliannya tanpa terkena akulturasi budaya dll. 


Pura Mandaragiri Semeru Agung

Lokasi :  Desa Senduro

Pura ini merupakan pura yang paling dituakan oleh masyarakat Hindu. Hampir tiap hari ada masyarakat Bali yang berdoa di pura ini. Apalagi di hari-hari libur, berbondong-bondong masyarakat Bali berkunjung kesini. Puncaknya saat piodalan (ulang tahun Pura) sekitar bulan Juli, ribuan Masyarakat Bali membanjiri ke kawasan ini untuk berdoa dan menampilkan kesenian-kesenian Bali






Alun-alun Kota Lumajang

Lokasi :  Pusat Kota Lumajang

Alun -Alun merupakan Jantung Kota Lumajang, yang juga merupakan paru-paru kota, Luas 6, 025 Ht. dan disekelilingnya terdapat Perkantoran Pemerintahan dan Masjid Agung Anas Mahfut. Pagi hari dipakai olah raga, Malam hari Taman Mini sebagai Wisata Belanja dan Wisata Kuliner.








Pantai Watu Pecak
Lokasi :  Desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian

Di desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian  18 Km dari kota Lumajang kearah Selatan dengan jarak tempuh  35 menit dari Kecamatan Pasirian, terdapat obyek wisata Pantai Watu Pecak yang berada sebelah Timur Pantai Bambang.

Seperti Pantai Bambang, Pantai Watu Pecak merupakan obyek wisata Pantai Selatan dengan ciri ombak besar dan dipergunakan sebagai tempat upacara Melasti / sesuci bumi umat Hindu Dharma Bali.








Pantai Tlepuk

Lokasi :  Pasirian

Pantai dengan panorama indah dan deburan ombak yang menakjubkan memiliki rawa yang sangat ideal untuk tempat pemancingan. Tempat ini mudah dijangkau terletak di kecamatan pasirian sekitar 31 km arah selatan kota Lumajang.







Coban Pawon

Lokasi :  Desa Kertowono Kec. Gucialit

Merupakan obyek wisata Alam,Terletak di desa Kertowono Kecamatan Gucialit, jarak dari kota Lumajang sekitar 20 Km. Keunikan air terjun ini adalah antrukannya berada didalam goa yang menyerupai pawon (dapur tempat memasak), setiap percikan air terjun ini diyakini dapat membantu penyembuhan penyakit.








Makanan khas daerah Lumajang 


1.  Pisang Agung

Makanan Khas Lumajang Yang Terkenal
Pisang agung merupakan makanan khas lumajang yang popular, pisang yang dimaksud itu bukan sekedar pisang biasa  Melainkan, Pisang Agung yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk yanga bentuknya sangat panjang. Ukurannya bisa mencapai 2 atau 3 kali lebih panjang  jika dibandingkan ukuran pisang biasa.

2. Lupis Lumajang

5 Makanan Khas Lumajang Yang Terkenal
Lupis ini terbuat dari beras ketan yang kemudian direbus dalam waktu lama. Untuk pembuatannya mirip seperti  lontong. Makanan ini ketika dimakan  menimbulkan kesan kenyal-kenyal di lidah. Lupis biasanaya juga dipadukan dengan tambahan cenil, klepon dan apem.


3. Lontong Petis

Makanan Khas Lumajang Yang Terkenal
Lontong petis ini merupakan makanan seperti lontong, ketupat, dan lepet, makanan khas lumajang yang berbentuk prisma ini biasanya dai sajikan dengan sayur daging ayam, telur, tahu, kentang diolah menjadi satu. untuk tambahanya yaitu petis.

4. Pecel Telo

Pecel telo khas lumajang jawa timur ini meru pakan makanan yang terbuat dari sayur-sayuran atau jantung pisang, semanggi, genjer, kacang panjang dan kecambah, yang kemudian diberi bumbu yang bahan bakunya dari ubi jalar.

5. Bledus Khas Lumajang

Makanan Khas Lumajang Yang Terkenal
Bledus ini adalah makanan yang terbuat dari jagung pipil kering kemudian direndam semalaman, terakhir bledus ini direbus dalam waktu yang lama,. biasanya dalam penyajianya dengan ditabur kelapa parut.
 




source :http://makananindonesia-top.blogspot.com/2014/10/makanan-khas-lumajang-jawa-timur.html


0 komentar:

Posting Komentar

 
all about me Blog Design by Ipietoon